cerbung
cerita
Parumahan tingga
Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts
Saturday, April 4, 2020
Monday, September 2, 2019
Cerita Lucu Terbaru | Cara Menyampaikan Berita Buruk
![]() |
| ilustrasi Dokter menelepon |
Seorang pria mendapat sebuah panggilan telepon. Ternyata panggilan tersebut berasal dari rumah sakit.
“Pak, istri Anda mengalami kecelakaan serius. Ada kabar buruk dan kabar baik untuk Anda,” terang sang dokter.
Dengan ragu-ragu, pria itu pun memutuskan mendengar kabar buruknya terlebih dahulu.
“Kabar buruknya, istri Anda mengalami kelumpuhan total. Untuk bisa bertahan hidup, dia harus menggunakan respirator.”
Dengan tak kuasa menyembunyikan kesedihannya, pria itu bertanya, “Lalu apa kabar baiknya?”
Dokter menjawab, “Saya hanya bercanda.”
Pria itupun merasa lega, dan si dokter kembali melanjutkan bicaranya, “Sebenarnya, istri Anda sudah meninggal.
sumber : kepogaul.com
cerita
lucu
ngakak
Cerita Lucu Terbaru | Sopir Kaget
![]() |
| ilustrasi ; pegipegi.com |
Ini adalah sebuah kisah tentang supir taksi dan penumpangnya. Karena ingin bertanya sesuatu, penumpang pun menepuk pundak si supir.
Namun saat ditepuk, si supir justru kaget bukan main. Dia jadi kehilangan kendali dan hampir terlibat kecelakaan fatal.
Dia menepikan mobilnya dan berusaha keras untuk menenangkan hatinya. Lalu si supir berkata pada penumpang, “Tolong jangan seperti itu, saya sungguh ketakutan.”
Karena tak tahu apa-apa, si penumpang pun berkata, “Maaf, saya tidak tahu kalau hal seperti itu bisa mengejutkanmu.”
Si supir kembali menjawab, “Saya juga minta maaf, sepenuhnya ini bukan kesalahan Anda. Hari ini merupakan hari pertama saya menjadi supir taksi. Sebelumnya, saya adalah supir mobil jenazah, dan profesi ini sudah saya jalankan selama 30 tahun.
sumber : kepogaul.com
cerita
lucu
ngakak
Cerita Lucu Terbaru | Cerita dari Manado
Sari: (ketakutan) Mak, mana Bapak?
Ibu: keluar kota, kenapa kau?!!
Sari: (dengan nada pelan) maaf ya, Mak. Kayaknya aku hamil, deh.
Ibu: (kaget). Apa?!! Apa kau bilang?!!
Sari: (gemetaran). Aku hamil, Mak.
Ibu: (marah-marah sambil geleng-geleng kepala) Hamil?!!!
Sari: Iya, hamil!!
Ibu : Aaaahh, gak mungkin! Kau bercanda sajalah! Pigi kau istirahat.
Sari: Tapi akhir-akhir ini, aku sering muntah-muntah, Mak.
Ibu: (rada cuek) Aaaahh. Palingan cuma masuk angin aja kau tuh. Pigi kau beli minyak angin sana. Nanti juga sembuh.
Sari: (tersedu-sedu) Hikss, hikss. Tapi kenapa pula sekarang aku suka makan yg asem-asem ya, Mak?!!
Ibu : (dengan kesal sambil teriak) Berhentilah kau mengkhayal SARIPUDIN!!! Mamak tempeleng kau nanti yaaa?!! Laki-laki mana pula bisa melahirkan!!!
Sumber : liputan6.com
cerita
lucu
ngakak
Cerita Lucu Terbaru | Nemuin Dompet
![]() |
| Ilustrasi ; Bangka Pos - Tribunnews.com |
Sepulang sekolah, Mukidi menemukan dompet di jalan menuju rumahnya. Dikarenakan Mukidi adalah anak yang jujur, dompet tersebut diantarkan ke alamat pemiliknya yang diketahui dari KTP yang berada dalam dompet. Ternyata dompet tersebut adalah milik Pak Haji Sobirin, tetangga sebelah rumahnya.
Mukidi: “Pak Haji, ini dompet bapak bukan?” tanya Mukidi sambil menunjukan dompet yang baru ditemuinya.
Pak Haji Sobirin:“Betul, itu dompet saya yang hilang. Saya cari di mana mana tidak ketemu. Kamu nemuinnya di mana?”
Mukidi: “Itu di bawah pohon mangga, depan rumah Pak Hakim.”
Setelah diterima dengan wajah gembira, dompet itu dibuka oleh Pak Haji Sobirin. Tidak ada yang hilang dan uangnya masih utuh 100.000. Namun entah kenapa wajah Pak Haji terlihat bingung.
Pak Haji Sobirin: “Tidak ada yang hilang, tapi….?
Mukidi: “Tapi kenapa, Pak Haji?”
Pak Haji Sobirin: “Tadinya uang saya itu 100.000 satu lembar.Kok sekarang jadi 10.000 sepuluh lembar?”
Mukidi: “Oh itu…Tadi sebelum ke sini saya tukarkan di warung gado-gado Bi Ijah sama recehan. Soalnya kemarin saya juga nemuin dompet di jalan. Pas saya antar ke yang punya, saya nggak dapet persenan. Alasannya karena tidak ada uang receh. Jadi…”
Gara gara takut enggak dikasih bonus karena enggak ada receh, eh dia inisiatif nukerin sendiri uang di dompet itu.
Sumber : liputan6.com
cerita
lucu
ngakak
Saturday, July 13, 2019
Cerita Lucu Terbaru | Katak dan Peramal
“Seekor katak pergi menemui seorang peramal untuk mengetahui apakah dia beruntung dalam urusan asmara atau tidak.”
Peramal itu kemudian membaca telapak tangan si katak dan berkata, “Aku mempunyai kabar baik dan kabar buruk. Mau dengar yang mana dulu?”
Si katak ingin mendengat kabar baiknya terlebih dulu.
Peramal pun berkata, “Kamu akan bertemu seorang gadis cantik. Dia akan tertarik padamu dan ingin mengetahui segala sesuatu tentang dirimu. Dia ingin kamu terbuka padanya dan memberikan hatimu padanya.”
“Wah, itu hebat!” kata si katak. “Tapi, apa kabar buruknya?”
“Kamu akan bertemu dengannya di kelas biologi.”
sumber : https://www.liputan6.com
cerita
gambar
lucu
ngakak
Cerita Lucu Terbaru | Kisah Dua Bocah di Rumah Sakit
Bocah 1: “Kenapa kamu di sini?”
Bocah 2: “Aku ke sini untuk operasi amandel.”
Bocah 1: “Jangan takut, waktu aku umur empat tahun juga pernah dioperasi. Kamu hanya perlu tidur dan bangun-bangun dokter akan memberimu es krim. Itu sebenarnya cukup menyenangkan.”
Bocah 2: “Hah… syukurlah. Kalau kamu ngapain ke sini?”
Bocah 1: “Aku mau sunat.”
Bocah 2: “Wah, semoga beruntung, kawan! Aku dulu langsung disunat saat baru lahir dan setelah itu aku tak bisa berjalan selama satu tahun.”
sumber : https://www.liputan6.com
cerita
lucu
ngakak
Cerita Lucu Terbaru | Asal Muasal Kelinci
Anak kelinci: “Ibu, aku ini asalnya darimana?”
Ibu kelinci: “Sekarang belum saatnya kamu tahu, ibu akan memberitahumu ketika kamu sudah dewasa nanti.”
Anak kelinci: “Ah… bu! Tolong katakan sekarang!”
Ibu kelinci: “Kalau kamu memaksa ingin tahu, baiklah, akan ibu beritahu.”
Anak kelinci: “Ya, bu! Cepat katakan!”
Ibu kelinci: “Kamu berasal dari topi pesulap.”
Cerita humor lucu bikin ngakak satu ini bisa menjadi bahan bercandaan kalau suatu waktu ada anak kecil yang tanya kelinci itu lahirnya darimana. Jawab aja kelinci asalnya dari topi pesulap.
sumber : https://www.liputan6.com
cerita
lucu
ngakak
Cerita Lucu Terbaru | Di Balik Nikmatnya Berlibur
Sebuah keluarga sedang pergi ke Disney Land. Setelah melewati liburan yang menyenangkan dan melelahkan, mereka kembali ke rumah.
Saat mereka meninggalkan Disney Land, anak laki-laki melambaikan tangan dan berkata, “Goodbye, Mickey.”
Lalu si anak perempuan juga melambaikan tangan dan berkata, “Goodbye, Minnie.”
Kemudian si ayah juga melambaikan tangan dan dengan lemahnya berkata, “Goodbye, Money.”
sumber : https://www.liputan6.com
cerita
lucu
ngakak
Cerita Lucu Terbaru | Inem Bingung
Suatu ketika Inem menemukan kondom bekas ketika sedang menyapu lantai kamar majikannya.
Inem: Bu, ini apa ya?
Majikan: Ooo, ini kondom Nem. Masa kamu nggak tau?
Inem: Saya nggak tahu Bu.
Majikan: Ini bekas bersetubuh. Memangnya di kampungmu nggak ada beginian Nem?
Inem: Wah, di kampung saya kalau orang bersetubuh nggak sampai terkelupas gini kulitnya Bu.
Majikan: ???
Sumber : https://www.liputan6.com
Inem: Bu, ini apa ya?
Majikan: Ooo, ini kondom Nem. Masa kamu nggak tau?
Inem: Saya nggak tahu Bu.
Majikan: Ini bekas bersetubuh. Memangnya di kampungmu nggak ada beginian Nem?
Inem: Wah, di kampung saya kalau orang bersetubuh nggak sampai terkelupas gini kulitnya Bu.
Majikan: ???
Sumber : https://www.liputan6.com
cerita
lucu
ngakak
romantis
Cerita Lucu Terbaru | Skandal dokter
Seorang dokter muda laki-laki memikirkan apa yang telah diperbuatnya dengan para pasien wanitanya. Pikirannya masih kerap bertentangan.
"Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Skandal seks dokter dengan pasien itu lumrah terjadi," kata salah satu pikirannya.
"Orang-orang pun sudah mulai terbiasa dengan skandal seperti itu. Pasti banyak orang yang juga pernah melakukannya. Jangan kuatir,"
Namun otaknya menjadi kacau ketika ada suara pikirannya yang mengatakan, "Masalahnya aku kan dokter hewan!"
sumber : https://www.liputan6.com
"Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Skandal seks dokter dengan pasien itu lumrah terjadi," kata salah satu pikirannya.
"Orang-orang pun sudah mulai terbiasa dengan skandal seperti itu. Pasti banyak orang yang juga pernah melakukannya. Jangan kuatir,"
Namun otaknya menjadi kacau ketika ada suara pikirannya yang mengatakan, "Masalahnya aku kan dokter hewan!"
sumber : https://www.liputan6.com
cerita
gambar
lucu
ngakak
Cerita Lucu Terbaru | Sebuah Pengakuan
Ini adalah kisah dua orang sahabat yang sudah 20 tahun menjadi rekan kerja. Tiba-tiba, salah satu dari mereka tampak sekarat.
Sebelum pergi meninggalkan dunia, ia membuat sebuah pengakuan kepada sahabatnya. “Aku mau membuat pengakuan sebelum aku mati. Aku telah selingkuh dengan istrimu selama 10 tahun, dan anak perempuanmu itu adalah anakku.”
“Tenang, aku sudah tahu. Kamu tak perlu mengkhawatirkan itu. Pergilah dengan tenang,” kata sahabat yang satunya. Ia juga membuat sebuah pengakuan, “Aku ke sini juga mau mengaku, akulah yang menaruh racun di makananmu siang tadi.”
Cerita humor lucu bikin ngakak abis ini mungkin menggambarkan keadaan di mana seseorang tidak banyak bicara tapi langsung bertindak.
sumber :
https://www.liputan6.com
cerita
gambar
lucu
ngakak
Tuesday, March 29, 2016
Serial Detective Sherlock Holems Terlengkap
A. Kembalinya Sherlock Holmes
B. Koleksi Kasus Sherlock Holmes
1.Batu Mazarin
2.Kasus Jembatan Thor
3.Pria Merangkak
4.Vampire Sussex
5.Tiga Garrideb
6.Klien Penting
7.Rumah Beratap Tiga
8.Prajurit Berwajah Pucat
9.Surai Singa
10.Pensiunan Pengusaha Cat
11.Penyewa Kamar Berkerudung
12.Tempat tua di shoscombe
C. Salam Terakhir
1.Petualangan di Wisteria Lodge
2.Petualangan kotak kardus
3.Lingkaran Merah
4.Kasus Pencurian Rancangan Kapal Selam Bruce Partington
5.Petualangan Detektif yang Sekarat
6.Misteri Hilangnya Lady Frances Carfax
7.Petualangan Kaki Setan
8.Salam Terakhir
D. Kasus Identitas
1. Anjing Setan Baskerville
2. Batu Delima Biru
3. Empat Pemburu Harta
4. Ibu Jari Sang Insinyur
5. Kasus Identitas
6. Lembah Ketakutan
7. Lima Butir Biji Jeruk
8. Misteri di Boscombe Valley
9. Penelusuran Benang Merah
10. Perkumpulan Orang Berambut Merah
11. Petualangan di Copper Beeches
12. Pria Berbibir Miring
13. Skandal di Bohemia
14. Tiara Bertatahkan Permata Hijau
E. Lilitan Bintik-bintik
1. Silver Blaze
2. Bangsawan Muda
3. Lilitan Bintik-bintik
F. Wajah Kuning Yang Mengerikan
1. Kisah Penutup
2. Wajah Kuning Yang Mengerikan
3. Dokumen Angkatan Laut
4. Pasien Rawat Inap
5. Kapal Gloria Scott
6. Pegawai Kantor Bursa
7. Penerjemah Bahasa Yunani
8. Ritual Keluarga Musgrave
9. Si Bungkuk
10. Tuan Tanah di Reigate
Download versi lengkap di Sini
Tags : Cerita Detektive Sherlock Holmes Terbaru, Kisah Detektive Sherlock Holmes Terlengkap
Sumber : dari berbagai sumber
cerita
Saturday, June 20, 2015
Cerita Lucu Abu Nawas; Menteri yang Zalim
Di Negeri Baghdad dahulu kala ada seorang menteri yang dikenal sangat jahat perangainya, sehingga ditakuti warganya. Ia tidak bisa melihat perempuan cantik, terutama istri orang, pasti diambilnya. Apabila membeli suatu barang, ia tidak pernah mau membayar. Ihwal itu lama kelamaan sampai juga ke telinga Abu Nawas sehingga membuat hatinya panas. Maka Abu Nawas pun pasang niat tidak akan meninggalkan daerah itu sebelum sang menteri menghembuskan nafas
terakhir alias mati.
Kemudian
Abu Nawas berangkat ke tempat menteri itu tinggal dan sengaja menyewa
rumah yang berdekatan untuk melakukan investigasi. Setelah beberapa hari
bergaul dengan penduduk di situ, ia pun kenal dengan sang menteri dan
bahkan bersahabat baik. Begitu baiknya pendekatan yang dilakukan
sampai-sampai menteri itu tidak bisa mencium rencana busuk Abu Nawas.
Abu Nawas boleh masuk dan keluar rumah itu dengan bebas, sehingga ia
tidak menaruh curiga sama sekali kepadanya.
Di
dalam rumah itu Abu Nawas melihat sebuah tiang gantungan yang digunakan
untuk menggantung orang-orang yang bersalah kepada menteri itu. Cara
menggantungnya pun dengan cara yang sadis, yaitu kaki di atas dan kepala
di bawah. Dalam posisi demikian, orang itu dipukuli sampai mati.
“Dengan
demikian memang betul berita-berta yang aku dengar tentang menteri
ini,” pikir Abu Nawas. “Nantikanlah, aku pasti akan membalas.”
“Hai
orang muda,” kata Abu Nawas, kepada seorang pemuda tampan yang sedang
menggiringseekor lembu gemuk. “Apakah lembu itu akan dijual?” Pertemuan
itu terjadi ketika Abu Nawas berjalan-jalan di sebuah sudut desa itu.
“Lembu ini tidak dijual,” jawab si pemuda, “Karena ini warisan bapak hamba.”
“Lebih
baik lembu itu dijual saja,” Abu Nawas mencoba merayu. “Kalau laku
dengan harga tinggi, kamu bisa berdagang sehingga uang itu menjadi
banyak.”
“Betul
juga kata Tuan,” jawab si pemuda setelah berpikir sejenak. “Namun untuk
menjualnya hamba harus berkonsultasi dengan ibu di rumah, kalau ibu
setuju boleh tuan membelinya.”
“Itu
akan lebih baik,” Ujar Abu Nawas. Sementara anak muda itu pulang, Abu
Nawas memeras otak, ia akan berusaha memanfaatkan ketampanan wajah anak
muda itu untuk melaksanakan rencananya.
“Hai menteriku, tunggulah bagianmu kelak,” kata Abu Nawas dalam hati dengan perasaan geram.
“Ibu setuju menjual lembu ini,” kata pemuda itu kepada Abu Nawas, setelah keduanya bertemu lagi.
“Bagus,”
kata Abu Nawas, “Tetapi sebenarnya bukan aku yang akan membeli lembumu,
melainkan menteri yang zalim itu. Oleh karena itu berikan harga yang
pasti, sesudah itu kita membuat perjanjian dan kamu yang akan
melaksanakannnya. “Setuju?” Tanya Abu Nawas. “Setuju!” jawab si pemuda.
“Giringlah
lembumu itu ke kebun, dan tunggulah aku di sana,” kata Abu Nawas. “Aku
akan ke rumah menteri itu dan setelah itu aku menemuimu.”
“Hai
menteri, ada seorang pemuda yang akan menjual seekor lembu gemuk,” kata
Abu Nawas. “Jika Anda tertarik, silahkan anda beli dengan harga yang
pantas, tidak mahal, mari kita ke kebun itu.”
“Berapa harganya?” tanya si menteri begitu sampai di kebun. Ia sangat tertarik dan ingin segera membelinya.
“Lima
puluh dinar,” jawab si pemuda. “Boleh ditawar?” tanya si menteri.
“Tidak bisa, karena lembu ini warisan bapak hamba,” jawab si pemuda.
“Baik,
pasti kebayar harga itu,” ujar si menteri. Maka disodorkan ujung tali
pengikat lembu kepada menteri, namun ketika ditarik ternyata kosong.
Rupanya diam-diam Abu Nawas telah melepas binatang itu, namun karena
harga telah disepakati, pemuda itu meminta bayarannya.
“Mana lembunya?” tanya si menteri. “Masa hanya talinya? Aku tidak sudi membayar.”
Keduanya
pun berbantah-bantahan dengan sengitnya. “Aku minta bayarannya,” kata
si pemuda. “Kalau tidak mau bayar, kembalikan lembuku.”
“Apa yang mesti kubayar, dan apa yang harus kukembalikan,” kilah si menteri.
“Cuma tali yang kau berikan kepadaku … Nih, ambillah, aku tidak butuh tali.”
“Kerjamu memang cuma menipu dan menganiaya orang!” kata si pemuda lagi. “Kamu memang zalim, mau makan darah orang kecil.”
Si
menteri tidak menggubris lagi perkataan itu, ia berjalan pulang
kerumahnya. Sementar si anak muda hatinya sangat sedih, lembu hilang,
uang melayang. “Barangkali memang itulah nasibku. Apa boleh buat,”
keluhnya.
“Sudahkah kamu menerima pembayaran harga lembumu?” tanya Abu Nawas kepada anak muda pada malam harinya.
“Hamba diperdaya menteri itu,” jawab si pemuda dengan wajah nelangsa. “Lembu hilang, uang melayang.”
“Coba ceritakan kata Abu Nawas. “Aku kira jual beli berjalan lancar sehingga aku cepat-cepat pergi karena ada urusan lain.”
Maka diceritakanlah kejadian itu dengan nada mendongkol. “Sialan menteri itu,” ujar si pemuda.
“Oh
begitu, kata Abu Nawas. “Jangan sedih, Insya Allah aku akan membantu.”
Kemudian Abu Nawas minta si pemuda bersedia melaksanakan rencana yang
telah disusunnya untuk membunuh si menteri zalim itu.
Keesokan
harinya jam tujuh malam seorang wanita cantik berhenti di depan rumah
si menteri zalim, ia tampak membuang sesuatu yang dicabut dari kakinya.
“Hai Adinda, dari mana gerangan asalmu?” tiba-tiba muncul suara dari sudut yang
gelap.
Suara itu ternyata milik menteri yang saat itu juga sedang
berjalan-jalan di depan rumahnya. Hatinya amat girang begitu melihat
wajah cantik yang tiba-tiba muncul di depan matanya.
“Hamba
orang desa, tadi ketika berjalan bersama suami, kaki hamba tertusuk
duri. Hamba terpaksa berhenti untuk menarik duri dari kaki, suami hamba
tidak mau menunggu dan hamba ditinggal di sini.
Hamba tidak tahu jalan pulang ke rumah,” kata si perempuan itu dengan penuh iba, lalu ia pun menangis.
“Jika
Adinda mau, silahkan mampir ke rumah hamba sambil menunggu suami
Adinda. Barangkali dia sekarang sedang mencari Adinda,” kata si menteri.
“Jangan takut.”
“Hamba takut kepada istri dan pelayan-pelayan tuan,” kata perempuan muda itu.
“Kalau
begitu, silahkan Adinda duduk di sini, Kanda akan menyuruh istri pergi
ke rumah ibunya bersama pelayan-pelayan itu,” kata si menteri. Maka sang
menteri pun tergopoh-gopoh masuk ke rumahnya.
“Hai
Adinda, katanya, “Sekarang ini sebaiknya Adinda pergi ke rumah ibu
karena sudah lama rasanya Adinda tidak kesana.” “Jika demikian kehendak
Kakanda, baiklah hamba kesana,” jawab istri si menteri.
“Hai
Adinda, kata si menteri kepada perempuan muda itu setelah rumah kosong.
“Silahkan masuk ke rumah hamba, karena istri dan semua pelayan telah
pergi.”
“Baiklah, katanya sambil mengikuti langkah si menteri. Di dalam rumah dilihatnya
tali gantungan seperti yang diceritakan Abu Nawas. Menteri itu mendorong si
perempuan muda ke kamar dan mengajak tidur, namun ia mencoba menolak sambil
merajuk.
“Sebelum
kita tidur, cobalah Kakanda bergantung sebentar pada tali itu,”
rayunya. “Seumur hidup hamba belum pernah melihat orang bergantung
ditali.”
Karena
terdorong oleh nafsu syahwat yang menggelora, permintaan itu dituruti
si menteri. “Tolong Adinda pegang tali gantungan ini kuat-kuat, jangan
dilepaskan,” katanya.
Menteri
itu kemudian memasukkan badannya kedalam tali gantungan, setelah itu si
perempuan gadungan melepaskan tali yang dipegangnya sehingga badan si
menteri menggantung dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Si
perempuan pun mengeluarkan sebuah pentungan lalu memukul
badan
dan kepala si menteri zalim itu sambil berujar. “Hai menteri zalim, aku
bukan perempuan, akulah pemilik lembu yang kau tipu, sekarang terimalah
pembalasanku. Aku minta harga lembuku, ayo bayar… bayar” Bak – Bik –
Buk… darah segar mengalir dari mulut, hidung dan telinga menteri itu,
sehingga ia tidak sadarkan diri. “Mampuslah kau,” teriak si pemuda.
Mengira
bahwa si menteri sudah mati, masuklah perempuan palsu itu ke dalam
rumah, dan menjarah barang-barang yang ada, sesudah itu barulah ia
pulang dengan menggondol harta kekayaan si menteri Zalim
Di
tempat lain si istri menteri mendapat firasat buruk, hatinya
berebar-debar keras. “Ada apa gerangan di rumahku?” pikirnya dalam hati,
maka dengan bergegas pulanglah ia ke rumah.
Setiba
di rumah ia menjerit-jerit histeris lantaran dilihatnya suaminya
tergantung pingsan dengan kepala berdarah dan harta bendanya ludes.
Ketika tali gantungan dilepas, ternyata suaminya masih bernafas, meski
terengah-engah. Kemudian dipercikkan air mawar ke sekujur tubuhnya dan
kepala menteri hingga siuman dan membuka matanya.
“Ya Kakanda……” ucap si istri sambil menangis meratapi nasib suaminya. “Kenapa Kanda bisa begini?”
Si
menteri tidak bisa segera menjawab pertanyaan itu, tapi lambat laun
setelah kesadarannya mulai pulih ia pun bisa menceritakan semua yang
dialaminya. Setelah itu ia jatuh sakit.
Abu Nawas khawatir demi mendengar kabar itu, buru-buru ditemui si anak muda itu di rumahnya.
“Mengapa
tidak kamu matikan dia?” tanya Abu Nawas. “Bukankah aku sudah pesan,
jangan kamu tinggal sebelum dia mati. Sekarang sebaiknya kamu tambah
penyakit menteri itu supaya mati.
“Bagaimana caranya?” tanya si pemuda, ia tidak kalah khawatir dengan Abu Nawas.
“Berpura-puralah menjadi dukun, karena saat ini menteri itu sedang mencari dukun, kata Abu Nawas.
“Selanjutnya
usahakan dengan caramu sendiri agar rumah itu kosong, dan setelah
kosong pukulilah menteri itu sampai mati, sebelum mati, jangan kamu
tinggalkan dia.” Esok harinya datanglah seorang kakek tua bertongkat ke
rumah menteri itu, ia memakai jubah panjang dan serban putih dengan
langkah terbungkuk-bungkuk.
“Tuan, tanya seorang pelayan menteri itu, siapakah tuan ini?
“Aku
ini dukun,” jawabnya, “Kenapa kamu menyapa aku di tengah jalan seperti
ini, tidak sopan berbuat seperti itu kepada orang tua.”
“Maaf,”
kata si pelayan, “Hamba pelayan menteri, beliau saat ini sedang sakit
dan perlu dukun, jika tuan suka, silahkan masuk ke rumahnya.” “Ya tuan
dukun, obatilah hamba ini,” kata si menteri itu setelah dukun palsu itu
duduk di samping pembaringannya. “Hamba sakit…” lama-kelamaan suaranya
hilang.
“Moga-moga
hamba bisa mengobati tuan,” jawab si dukun. “Tapi bisakah
pelayan-pelayan itu disuruh mencari daun kayu lengkap dengan akarnya.
Daun itu memang sulit dicari tetapi banyak gunanya untuk penyembuhan
tuan.”
Menteri
itu kemudian menyuruh tiga orang pelayan untuk memenuhi permintaan
dukun. Tak lama kemudian dukun itu berkata lagi, “Maaf, hamba lupa,
adalagi daun kayu yang lain yang hamba butuhkan. Tolong pelayan yang
lain disuruh mencari.” Maka menteri itu pun menyuruh pelayan lainnya
sehingga
rumah itu kosong karena anak dan istri menteri itu sabelumnya sudah
pergi ke luar rumah. Setelah yakin bahwa rumah itu kosong, diambil
sebuah pentungan dan dipukulnya sekujur badan
menteri
itu sampai babak belur dan mengeluarkan darah dari hidung, telinga dan
mulunya. “Hai menteri, aku bukan dukun, tapi pemilik lembu yang kamu
tipu. Mana bayaranmu!” katanya. Menteri itu pingsan dan tidak bernafas
lagi. Dikiranya si menteri sudah mati, cepat-cepat dukun itu pergi,
karena khawatir para pelayan itu segera kembali. “Puas hatiku karena
menteri itu sudah mati,”
pikir si dukun palsu. Kira-kira satu jam kemudian para pelayan itu kembali dengan tangan hampa diikuti oleh istri menteri.
Mereka
cemas melihat tuannya tergeletak dan dukun itu tidak ada lagi. Lalu
istri menteri itu menyiram badan suaminya dengan air mawar yang
diminumkan seteguk ke mulutnya. Tak lama kemudian menteri itu sadar
namun belum bisa bicara.
“Ya
istriku, orang itu bukan dukun, tetapi yang punya lembu itu juga,” kata
si menteri setelah sadar. “Panggil orang-orang alim dan kabarkan kepada
mereka bahwa aku sudah mati. Masukkan badanku ke dalam keranda bersama
sekerat batang pisang yang dibungkus kain putih sebagaimana mayat
laiknya. Tetapi yang dimasukkan ke liang lahat nanti adalah batang
pisang tadi, sedang badanku tetap dalam keranda dan dibawa pulang
kembali. Dengan demikian orang yang punya lembu itu tidak akan datang
lagi kemari. Kapan-kapan bila aku sembuh akan kucari orang itu untuk
membuat perhitungan terakhir.”
Semua
pesan itu dikerjakan oleh istri menteri itu dengan baik. Tetap dasar
Abu Nawas, ia berhasil mencium akal busuk itu. Maka ditemuinya si
pemilik lembu. “Kenapa tidak kamu pukul sampai mati menteri itu?”
bertanya Abu Nawas.
“Orang
itu sudah mati,” kata si pemuda. “Ia tidak bergerak dan tidak bernafas
lagi, karena darah keluar dari hidung dan telinganya.”
“Saat
ini menteri itu masih hidup tapi pura-pura mati,” kata Abu Nawas. Lalu
diceritakannya rencana menteri tadi dan rencananya sendiri agar menteri
itu benar-benart mati, sebab jika ia masih hidup juga aku tidak dapat
menjamin nasibmu kelak,”
“Hai
saudara, maukan Anda aku bayar untuk menaiki kuda yang cepat larinya?”
kata Abu Nawas kepada seorang joki yang berbadan tinggi tegap, dekatilah
kuburan menteri itu, jika jenazah sudah sampai ke liang kubur,
berteriaklah keras-keras, “Akulah pemilik lembu”, kemudian paculah
kudamu sekencang-kencangnya. “Setuju?” “Nah, ini uangnya, pergilah.”
Esok
harinya iring-iringan jenazah menteri itu berangkat dari rumah lengkat
dengan orang besar, orang alim, sanak keluarga, dan sahabat almarhum.
Begitu sampai dekat liang lahat, terdengar teriakan
“Akulah pemilik lembu”.
Suasana
di kuburan menjadi kacau, karena para pelayat kemudian berlarian ingin
mengejar orang yang berteriak tadi. Namun apa lacur, orang yang dikejar
sudah kabur dengan kudanya, sementara keranda ditinggal tidak terurus.
Pada saat itulah si pemuda pemilik lembu yang sebenarnya muncul.
Rupanya
ia ikut dalam barisan pelayat. “Hai menteri, akulah pemilik lembu yang
kamu tipu, sekarang saatnya kamu harus membayar lunas utangmu. Tidak
akan kubiarkan nyawamu tetap bersarang di badanmu.” Lalu di pukulnya
menteri itu sekuat tenaga hingga benar-benar mati. Setelah itu ia pulang
ke rumah. Akan halnya joki tadi, akhirnya ia terkejar dan tertangkap dan kemudian dibawa ke kuburan menteri.
Upacara
pemakaman yang tadinya hanya pura-pura menjadi upacara sungguhan karena
menteri yang diusung di dalam keranda itu benar-benar mati, badannya
hancur dan tidak bernafas lagi tanpa diketahui siapa pelakunya. Hal itu
mengagetkan seluruh pelayat.
Setelah
itu orang-orang pulang ke rumah masing-masing dengan hati masygul dan
heran. Sedangkan si joki dibawa oleh anak-anak menteri kerumahnya. “Apa
sebab kamu berteriak dan mengaku sebagai orang yang punya lembu?” tanya
mereka.
“Aku tidak tahu sebabnya, aku hanya diupah untuk berteriak seperti itu,” jawab si joki.
“Siapa yang mengupah kamu?” Tanya anak-anak meteri. “Abu Nawas,” jawab si joki.
“Hai
Abu Nawas,” kata anak menteri setelah menemukan Abu Nawas, kenapa kamu
mengupah untuk berteriak seperti itu dan menganiaya bapakku?”
“Menganiaya bapakmu?” Abu Nawas balik bertanya. “Bertanyalah yang benar.”
“Engkau suruh orang itu berteriak mengaku sebagai orang yang punya lembu, maka kami kejar dia,
karena yang menyebabkan bapakku sakit tiada lain adalah orang yang punya lembu, bukan dari Allah.
“Oh
begitu,” kata Abu Nawas sambil senyum kecil. “Jadi kamu tidak tahu
bahwa orang yang punya lembu itu sudah ditakdirkan Allah untuk berbuat
demikian karena bapakmu terlalu zalim, penipu, penganiaya, pengisap
darah orang kecil, dan sebagainya. Rasanya tidak usah diperpanjang
masalah ini,
yang akan membuatmu malu besar, lebih baik kamu doakan saja agar bapakmu diampuni Allah.”
Anak
menteri itu terdiam, sebab ia tahu semua perbuatan bapaknya.
“Barangkali memang demikian takdir bapakku,” pikirnya dalam hati sambil
berjalan pulang ke rumah.
Warga
kota itu – termasuk orang yang punya lembu – merasa senang dan tenang
hatinya karena tidak ada lagi orang yang akan berbuat zalim.
Sedangkan
Abu Nawas segera kembali ke rumahnya. “Niatku sudah terlaksana,”
pikirnya. “Siapa tahu barangkali Khalifah Harun Al-Rasyid sedang menanti
kedatanganku ke istana beliau, lagi pula aku juga sudah sangat rindu
kepada Baginda Sultan.”
http://imehtinky.blogspot.com
cerita
lucu
Cerita Lucu Abu Nawas; Prinsip dan Tidak Prinsip
Suatu ketika, Abu Nawas shalat menghadap ke kiblat dengan sajadah yang arahnya terbalik. Sesudah shalat, orang-orang mengegur Abu Nawas karena kesalahan arah sajadah itu. Lalu Abu Nawas bertanya, "Apakah arah shalatku salah?"
"Tidak, hanya arah sajadah Anda yang salah!"
"Kalau begitu, tegur saja sajadahku. Jangan aku!"
Pasar Saja Tidak Tahu
Seorang rahib menghampiri Abu Nawas muda yang sedang bermain kelereng. Ia bertanya kepada Abu Nawas, "Hai nak, mana arah ke pasar?"
"Siapakah Anda? tanya Abu Nawas.
"Saya seorang rahib!"
"Apa itu rahib?" tanya Abu Nawas yang nampak asing dengan kata itu.
"Rahib adalah orang yang bertugas untuk membimbing manusia menuju surga."
"Bagaimana Anda membimbing manusia ke surga, kalau arah pasar saja Anda tidak tahu!"
Pameran Lukisan
Abu Nawas pernah berprofesi sebagai pelukis. Saat 50 lukisan telah diselesaikannya, ia bermaksud menyelenggarakan pameran lukisan di Balai Desa. Pameran itu dibuka oleh Kepala Desa dengan acara pemukulan bedug. Setelah dibuka, berbondong-bondong orang masuk ingin menyaksikan lukisan karya Abu Nawas. Namun betapa kagetnya, karena yang mereka lihat adalah sekumpulan lukisan yang dibungkus kain putih. Jadi mereka tidak bisa menikmati lukisan-lukisan itu, hanya bisa melihat kain putihnya saja.
Ketika ditanya kenapa dia melakukan itu, Abu Nawas menjawab "Sekarang ini banyak orang suka meniru. Kalau lukisan itu dibuka, saya takut sudah ditiru sebelum membeli!"
Siapa yang Bernama Saya
"Siapa yang belum makan?" tanya Abu Nawas pada segerombolan pengemis yang mendatanginya.
Secara serentak semua pengemis menjawab, "sayaaa...!"
"Baiklah, yang bernama 'saya' harap maju ke depan!"
Para pengemis itu heran, saling pandang lalu tiba-tiba berebut maju ke depan.
Kini Abu Nawas yang keheranan, "Apakah Anda semua bernama 'saya'?"
Karena takut tidak kebagian makanan, secara serempak mereka menjawab, "betuul!"
"Kalian pasti bohong, bagaimana mungkin nama kalian sama! Pasti diantara kalian ada yang bohong!"
Ketika diperiksa tanda pengenalnya, tidak ada satupun yang bernama "saya". "Lalu, siapa tadi yang belum makan?"
Kayu Allah
Seseorang kelihatan sedang mencuri buah apel di kebun Abu Wardah, ketika Abu Nawas dan Abu Wardah datang kesana. Abu Wardah langsung berteriak, "Pencuri, turun kau!"
"Siapa yang mencuri? Aku hamba Allah yang tengah mengambil apel milik Allah!" kata orang itu.
Tiba-tiba Abu Nawas mengambil kayu dan dipukulnya kearah orang itu. Orang itu berteriak, "Kenapa kau memukulku?"
"Aku menggunakan kayu Allah untuk memukul hamba Allah, apa salahnya?"
http://ngerayap.faa.im
cerita
lucu
Cerita Lucu Abu Nawas; Belajar dari buah Arbei
Kisah Abu Nawas kali ini tentang renungan.
Ya renungan tentang seputar buah yang bernama buah Arbei melawan buah Labu.
Kisahnya.
Abu Nawas dikenal memiliki pemikiran cerdas dan hampir bisa dipastikan dirinya memiliki solusi atas sebuah masalah yang tengah dihadapi. Selain itu, Abu Nawas juga dikenal sebagai saudagar buah-buahan yang dipanen dari kebun miliknya sendiri yang lumayan luas.
Bahkan saking luasnya kebun yang dimiliki Abu Nawas, sejauh mata memandang yang terlihat adalah bak permadani hijau yang tumbuh subur.
Pada suatu hari, Abu Nawas melakukan pengawasan, melihat-lihat kebunnya tersebut.
Dirinya berjalan kaki menyisiri kebunnya melewati tiap petak kebun yang ditanami berbagai macam sayur mayur dan buah-buahan segar.
Abu Nawas sangat bangga dan bahagia melihat tanamannya yang tumbuh subur dan menghasilkan banyak buah yang berkualitas.
Ucapan puja dan puji syukur terus menerus terucap dari bibir Abu Nawas kepada Tuhan.
Inspeksi Kebun Buah.
Pada siang hari yang cukup terik itu, perjalanan Abu Nawas yang sedang mengawasi lahan kebun miliknya mendadak berhenti pada sebuah petak dimana tumbuh subur pepohonan arbei.
Abu Nawas memandangi dengan detail tiap bagian pohon arbei miliknya tersebut. Dirinya memperhatikan rantingnya, daunnya hingga buahnya yang nampak segar bergelantungan.
Karena terik matahari begitu panas tepat di atas kepala dan dirinya merasa lelah, Abu Nawas kemudian berhenti dan beristirahat di bawah pohon arbei yang lebat. Bekal makanan yang sudah disiapkan oleh istrinya segera dibuka dan disantapnya. Kali ini makanan yang dia bawa tidak pedas-pedas amat, sangat enak gumannya dalam hati. Dengan ditemani semilir angin yang sepoi-sepoi, Abu Nawas puas menikmati makanan dari istrinya tersebut.
Setelah kenyang, dirinya menyandarkan diri pada batang pohon arbei sambil melihat ke atas, dilihatnya buah arbei yang ranum. Sesaat itu pula dirinya memandangi buah labu yang ada di petak seberang, betapa besar buahnya serta ranum.
Bukan Abu Nawas kalau dirinya hanya memandang saja. Ya..seperti biasa, Abunawas mulai merenungi buah-buahan yang tumbuh segar dari kebun miliknya.
TIba-tiba saja terlintas sebuah pemikiran di benak Abu Nawas.
"Aku itu heran, apa sebabnya ya pohon arbei yang sebesar ini namun buahnya hanya kecil saja. Padahal, pohon labu yang merambat dan mudah patah saja bisa menghasilkan buah yang besar-besar," ujar Abu Nawas dalam hati.
Kejatuhan Buah Arbei.
Tak lama berselang, angin kecil pun bertiup menghampiri Abu Nawas yang sedang beristirahat seolah-olah langsung menjawab pertanyaan yang ada dalam benaknya.
Ranting arbei pun bergerak-gerak dan saling bergesekan dan sesaat kemudian ada sebiji buah arbei jatuh tepat di kepala Abu Nawas yang sedang tidak bersorban itu.
"Ahaa...aku tahu sebabnya," ujar Abu Nawas.
Beruntung bagi Abu Nawas di siang itu hanya kejatuhan buah arbei saat sedang beristirahat. Bagamana jadinya jika saat itu dirinya kejatuhan buah labu?
Allah SWT menciptakan semua makhluknya yang ada di muka bumi ini dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing, dimana semua itu berjalan sesuai dengan fungsinya.
Saling keterikatan dan saling membutuhkan.
cerita
lucu
Cerita Lucu Abu nawas ; Jumlah Bintang di Langit
Karena kederdasan yang ia miliki ini, ia dinobatkan sebagai orang terbijak di desa tempat ia tinggal.
Salah satu bukti kedersan yang ia miliki adalah mampu menghitung jumlah bintang yang ada di langit.
Blog Kisah Abu Nawas akan menceritakan kisahnya.
Pada suatu hari, ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Tak jelas apa yang menuntun ketiga orang bijak tersebut hingaa sampailah mereka pada suatu hari di desa Abu Nawas tinggal.
Tanpa basa-basi lagi, dengan alasan waktu yang sangat mendesak, ketiga orang tersebut meminta beberapa warga untuk mengajukan diri agar mau menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh ketiga orang bijak tersebut. Semua pun menggelengkan kepala tanda tak mampu menjawab.
Tanya Jawab
Namun tak lama kemudian, orang-orang desa pun menyodorkan Abu Nawas sebagai wakil orang-orang bijak untuk mewakili desa mereka. Abu Nawas dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa yang menonton percakapan itu seputar tanya jawab.
Orang bijak pertama bertanya kepada Abu Nawas,
"Dimanakah sebenarnya pusat buni?"
"Tepat di bawah telapak kaki saya, Saudara," jawab Abu Nawas.
"Bagaimana bisa Saudara buktikan hal itu?" tanya orang bijak pertama tadi.
"Kalau tidak percaya, ukur saja sendiri," jawab Abu Nawas enteng.
Orang bijak yang pertama tadi diam tak bisa menjawab.
Melihat orang bijak pertama tadi kalah oleh Abu Nawas, tiba giliran orang bijak kedua yang mengajukan pertanyaan.
"Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?" tanyanya.
"Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini," jawab Abu Nawas
"Bagaimana bisa Saudara buktikan tentang hal itu," tanya orang bijak kedua.
"Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai ini, dan nanti Saudara akan tahu kebenarannya," jawab Abu Nawas dengan enteng tanpa dosa.
"Kalau itu sih bicara ngawur, bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai?" tanya orang bijak kedua lagi.
"Nah...kalau saya ngawur, kenapa Saudara juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?" sanggah Abu Nawas.
Mendengar jawaban itu, si orang bijak kedua pun tidak bisa melanjutkan pertanyaannya lagi.
Orang Terbijak
Mengetahui kedua temannya tak berdaya atas setiap jawaban yang diberikan oleh Abu Nawas, maka orang bijak yang ketiga pun mengajukan pertanyaan.
Diantara ketiga orang bijak itu, orang ketiga inilah yang katanya paling bijak.
Dirinya benar-benar terusik oleh setiap jawaban cerdik yang diberikan oleh Abu Nawas.
"Tampaknya Saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba Saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada di ekor keledai itu," tanya orang bijak ketiga itu dengan ketusnya.
"Saya tahu jumlahnya, jumlah bulu yang ada pada ekor keledai saya ini sama dengan jumlah rambut yang ada di janggut Saudara," jawab Abu Nawas dengan ketus pula.
"Bagaimana Saudara bisa buktikan hal itu?" tanya orang bijak ketiga lagi.
"Oh... kalau yang itu sih mudah, begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut Saudara. Nah...kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya yang keliru," jawab Abu Nawas dengan penuh semangat.
Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung yang seperti itu.
Akhirnya orang bijak tersebut kembali ke negeri asalnya, dan sementara itu orang-orang desa yang meyaksikan semakin yakin bahwa Abu Nawas adalah orang terbijak diantara keempat orang tersebut.
http://kisahpetualanganabunawas.blogspot.com
cerita
lucu
Abu Nawas dan Harimau Berjenggot
“Hai Abu Nawas,” seru Khalifah Harun Al-Rasyid. “Sekarang juga kamu harus dapat mempersembahkan kepadaku seekor harimau berjenggot, jika gagal, aku bunuh kau.”
Kata-kata itu merupakan perintah Sultan yang diucapkan dengan penuh tegas dan kegeraman. Dari bentuk mulutnya ketika mengucapkan kalimat itu jelas betapa Sultan menaruh dendam kesumat kepada Abu Nawas yang telah berkali-kali mempermainkan dirinya dengan cara-cara yang sangat kurang ajar. Perintah itu merupakan cara Baginda untuk dapat membunuh Abu Nawas.
“Ya tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas. “semua perintah paduka akan hamba laksanakan, namun untuk yang satu ini hamba mohon waktu delapan hari.”
“Baik,” kata Baginda.
Alkisah, pulanglah Abu Nawas ke rumah. Agaknya ia sudah menangkap gelagat bahwa Raja sangat marah kepadanya, dicarinya akal supaya dapat mencelakakan diriku, agar terbalas dendamnya,” pikir Abu Nawas. “jadi aku juga harus berhati-hati.”
Sesampainya di rumah dipanggilnya emapt orang tukang kayu dan disuruhnya membuat kandang macan. Hanya dalam waktu tiga hari kandang itu pun siap sudah. Kepada istrinya ia berpesan agar menjamu orang yang berjenggot yang datang kerumah. “Apabila adinda dengar kakanda mengetuk pintu kelak, suruh dia masuk kedalam kandang itu,” kata Abu Nawas sambil menunjuk kandang tersebut. Ia kemudian bergegas pergi ke Musalla dengan membawa sajadah.
“Baik,” kata istrinya.
“Hai Abu Nawas, tumben Lu shalat di sini?” bertanya Imam dan penghulu mushalla itu.
Sebenarnya saya mau menceritakan hal ini kepada orang lain, tapi kalau tidak kepada tuan penghulu kepada siapa lagi saya mengadu,” jawab Abu Nawas. “Tadi malam saya ribut dengan istri saya, itu sebabnya saya tidak mau pulang ke rumah.”
“Pucuk dicinta, ulam tiba,” pikir penghulu itu. “Kubiarkan Abu Nawas tidur disini dan aku pergi kerumah Abu Nawas menemui istrinya, sudah lama aku menaruh hati kepada perempuan cantik itu.”
“Hai Abu Nawas,” kata si penghulu, “Bolehkah aku menyelesaikan perselisihan dengan istrimu itu?”
“Silakan,” jawab Abu Nawas. “Hamba sangat berterima kasih atas kebaikan hati tuan.”
Maka pergilah penghulu ke rumah Abu Nawas dengan hati berbungan-bunga, dan dengan wajah berseri-seri diketuknya pintu rumah Abu Nawas. Begitu pintu terbuka ia langsung mengamit istri Abu Nawas dan diajak duduk bersanding.
“Hai Adinda,,,” katanya. “Apa gunanya punya suami jahat dan melarat, lagi pula Abu Nawas hidupnya tak karuan, lebih baik kamu jadi istriku, kamu dapat hidup senang dan tidak kekurangan suatu apa.”
“Baiklah kalau keinginan tuan demikian,” jawab istri Abu awas.
Tak berapa lama kemudian terdengar pintu diketuk orng, ketukan itu membuat penghulu belingsatan, “kemana aku harus bersembunyi ia bertanya kepada nyonya rumah.
“Tuan penghulu….” Jawab istri Abu Nawas, “Silahkan bersembunyi di dalam kandang itu,” ia lalu menunjuk kandang yang terletak di dalam kamar Abu Nawas.
Tanpa pikir panjang lagi penghulu itu masuk ke dalam kandang itu dan menutupnya dari dalam, sedangkan istri Abu Nawas segera membuka pintu, sambil menengok ke kiri-kanan, Abu Nawas masuk ke dalam rumah.
“Hai Adinda, apa yang ada di dalam kandang itu.?” Tanya Abu Nawas.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Istrinya. “Apa putih-putih itu?” tanya Abu Nawas, lalu dilihatnya penghulu itu gemetar karena malu dan ketakutan.
Setelah delapan hari Abu Nawas memanggil delapan kuli untuk memikul kandang itu ke Istana. Di Bagdad orang gempar ingin melihat Harimau berjenggot. Seumur hidup, jangankan melihat, mendengar harimau berjenggot pun belum pernah. Kini Abu Nawas malah dapat seekor. Mereka terheran-heran akan kehebatan Abu Nawas. Tetapi begitu dilihat penghulu di dalam kandang, mereka tidak bisa bilang apa-apa selain mengiringi kandang itu sampai ke Istana hingga menjadi arak-arakan yang panjang. Si penghulu malu bukan main, arang di muka kemana hendak disembunyikan. Tidak lama kemudia sampailah iring-iringan itu ke dalam Istana.
“Hai Abu Nawas, apa kabar?” tanya Baginda Sultan, “Apa kamu sudah berhasil mendapatkan harimau berjenggot?”
“Dengan berkat dan doa tuanku, Alhamdulillah hamba berhasil,” jawab Abu Nawas.
Maka dibawalah kandang itu ke hadapan Baginda, ketika Baginda hendak melihat harimau tersebut, si penghulu memalingkan mukanya ke arah lain dengan muka merah padam karena malu, akan tetapi kemanapun ia menoleh, kesitu pula Baginda memelototkan matanya. Tiba-tiba Baginda menggeleng-gelengkan kepala dengan takjub, sebab menurut penglihatan beliau yang ada di dalam kandang itu adalah penghulu Musalla. Abu Nawas buru-buru menimpali, “Ya tuanku, itulah Harimau berjenggot.”
Tapi baginda tidak cepat tanggap, beliau termenung sesaat, kenapa penghulu dikatakan harimau berjenggot, tiba-tiba baginda bergoyang kekiri dan ke kanan seperti orang berdoa. “Hm, hm, hm oh penghulu…”
“Ya Tuanku Syah Alam,” kata Abu Nawas, “Perlukah hamba memberitahukan kenapa hamba dapat menangkap harimau berjenggot ini di rumah hamba sendiri ?”
“Ya, ya,” ujar Baginda sambil menoleh ke kandang itu dengan mata berapi-api. “ya aku maklum sudah.”
Bukan main murka baginda kepada penghulu itu, sebab ia yang semestinya menegakkan hukum, ia pula yang melanggarnya, ia telah berkhianat. Baginda segera memerintahkan punggawa mengeluarkan penghulu dari kandang dan diarak keliling pasar setelah sebelumnya di cukur segi empat, agar diketahui oleh seluruh rakyat betapa aibnya orang yang berkhianat.
Sumber kisah dari Alkisah Nomor 20 / 27 Sep – 10 Okt 2004
cerita
lucu
Cerita Lucu, Abu Nawas Mengajari Keledai Membaca
Pada suatu hari seorang menteri kerajaan yg dipimpin oleh Harun al Rasyid tiba-tiba punya pikiran buruk kepada Abu Nawas.
Rupanya dia iri hati terhadap perhatian Raja yg begitu berlebihan terhadap Abu Nawas daripada dirinya.
Tanpa ada sebab, menteri itu memberikan seekor keledai kepada Abu Nawas.
"Ajari keledai itu membaca. Dalam 2 minguu, datanglah kembali kemari dan kita lihat hasilnya," kata menteri itu.
Abu Nawas menerimanya dan kemudian pergi tanpa banyak kata.
Namun dlam hati dia masih was-was juga atas niat menteri itu.
"Apakah ini salah satu tipu dayanya tuk menghancurkan nama baikku?" tanya Abu Nawas dlam hati.
Abu Nawas berusaha cuek aja dan dalam 2 minggu kemudian dia kembali ke istana.
Tanpa banyak bicara, menteri mengajaknya menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid.
"Baginda, akan aku tunjukkan siapa sebenarnya diriku ini," kata menteri itu dengn lantang.
"Hai menteri, ada apa dengn dirimu?" bentak Raja Harun.
"Tenang Baginda, hari ini Baginda akan tahu kecerdasan akal saya sebenarnya mengungguli kecerdasan Abu Nawas," ucap menteri.
"Apalagi yg akan dibuat oleh menteri ini," kata Abu Nawas dlam hati.
"Baiklah, jika salah satu dari kalian menang, maka dia berhak mendapatkan sekantung dinar ini, tetapi bagi yg kalah dia akan dihukum 3 bulan di penjara," titah Sang Raja.
Tanpa dapat mengelak, Abu Nawas terpaksa menyggupi permainan aneh itu.
Tiba-tiba menteri itu menunjuk ke sebuah buku besar.
"Coba buktikan jika keledai itu bisa membaca, bukankah engkau cerds dlam segala hal?" kata menteri kepada Abu Nawas.
Abu Nawas lalu menggiring keledainya ke buku itu dan membuka sampulnya.
Si keledai menatap buku itu dan tak lama kemudian mulai membalik halamannya dengn lidahnya.
Terus menerus dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman terakhir.
Setlah selesai si keledai menatap Abu Nawas.
"Demikianlah, keledaiku bisa membaca," kata Abu Nawas.
Kini giliran si menteri itu menginterogasi.
"Bagaimana caramu mengajari dia membaca?" tanyanya.
"Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku dan aku sisipkan biji-biji gandum di dlamnya.
Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman tuk bisa memakan biji-biji gandum itu, sampai dia terlatih betul tuk membalik-balik halaman buku dengn benar." jelas Abu Nawas.
"Tapi bukankah dia tak mengerti apa yg dibacanya?" tukas si menteri.
"Memang demikianlah cara keledai membaca, dia hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya.
Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai bukan?" jawab Abu Nawas.
Jawab Abu Nawas ini mendapatkan anggukan dari Baginda Raja.
Raja mengerti, sepintar-pintarnya hewan, tak akan sanggup menjadi sesempurna manusia.
Hanya manusia bodoh aja yg tak mau menggunakan akalnya tuk berfikir.
Akhirnya Abu Nawas mendapatkan hadiah sekantung dinar, sedangkan menteri masuk penjara.
http://assonhaji.blogspot.com
cerita
lucu
Sunday, June 14, 2015
Lomba Agar Manusia Bisa Bertelur
Sudah bertahun-tahun Baginda Raja Harun Al Rasyid ingin mengalahkan Abu
Nawas. Namun perangkap-perangkap yang selama ini dibuat semua bisa
diatasi dengan cara-cara yang cemerlang oleh Abu Nawas. Baginda Raja
tidak putus asa. Masih ada puluhan jaring muslihat untuk menjerat Abu
Nawas.
Baginda Raja beserta para menteri sering mengunjungi tempat pemandian air hangat yang hanya dikunjungi para pangeran, bangsawan dan orang-orang terkenal. Suatu sore yang cerah ketika Baginda Raja beserta para menterinya berendam di kolam, beliau berkata kepada para menteri,
"Aku punya akal untuk menjebak Abu Nawas."
"Apakah itu wahai Paduka yang mulia?" tanya salah seorang menteri.
"Kalian tak usah tahu dulu. Aku hanya menghendaki kalian datang lebih dini besok sore. Jangan lupa datanglah besok sebelum Abu Nawas datang karena aku akan mengundangnya untuk mandi bersama-sama kita." kata Baginda Raja memberi pengarahan.
Baginda Raja memang sengaja tidak menyebutkan tipuan apa yang akan digelar besok. Abu Nawas diundang untuk mandi bersama Baginda Raja dan para menteri di pemandian air hangat yang terkenal itu. Seperti yang telah direncanakan, Baginda Raja dan para menteri sudah datang lebih dahulu. Baginda membawa sembilan belas butir telur ayam. Delapan belas butir dibagikan kepada para menterinya. Satu butir untuk dirinya sendiri.
Kemudian Baginda memberi pengarahan singkat tentang apa yang telah direncanakan untuk menjebak Abu Nawas. Ketika Abu Nawas datang, Baginda Raja beserta para menteri sudah berendam di kolam. Abu Nawas melepas pakaian dan langsung ikut berendam. Abu Nawas harap-harap cemas. Kirakira permainan apa lagi yang akan dihadapi. Mungkin permainan kali ini lebih berat karena Baginda Raja tidak memberi tenggang waktu untuk berpikir.
Tiba-tiba Baginda Raja membuyarkan lamunan Abu Nawas. Beliau berkata, "Hai Abu Nawas, aku mengundangmu mandi bersama karena ingin mengajak engkau ikut dalam permainan kami."
"Permainan apakah itu Paduka yang mulia ?" tanya Abu Nawas belum mengerti.
"Kita sekali-kali melakukan sesuatu yang secara alami hanya bisa dilakukan oleh binatang. Sebagai manusia kita mesti bisa dengan cara kita masing-masing." kata Baginda sambil tersenyum.
"Hamba belum mengerti Baginda yang mulia." kata Abu Nawas agak ketakutan.
"Masing-masing dari kita harus bisa bertelur seperti ayam dan barang siapa yang tidak bisa bertelur maka ia harus dihukum !" kata Baginda.
Abu Nawas tidak berkata apa-apa. Wajahnya nampak murung. Ia semakin yakin dirinya tak akan bisa lolos dari lubang jebakan Baginda dengan mudah. Melihat wajah Abu Nawas murung, wajah Baginda Raja semakin berseri-seri.
"Nah sekarang apalagi yang kita tunggu. Kita menyelam lalu naik ke atas sambil menunjukkan telur kita masing- masing." perintah Baginda Raja. Baginda Raja dan para menteri mulai menyelam, kemudian naik ke atas satu persatu derigan menanting sebutir telur ayam. Abu Nawas masih di dalam kolam. Ia tentu saja tidak sempat mempersiapkan telur karena ia memang tidak tahu kalau ia diharuskan bertelur seperti ayam.
Kini Abu Nawas tahu kalau Baginda Raja dan para menteri telah mempersiapkan telur masing-masing satu butir. Karena belum ada seorang manusia pun yang bisa bertelur dan tidak akan pernah ada yang bisa. Karena dadanya mulai terasa sesak. Abu Nawas cepat-cepat muncul ke permukaan kemudian naik ke atas. Baginda Raja langsung mendekati Abu Nawas. Abu Nawas nampak tenang, bahkan ia berlaku aneh, tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara seperti ayam jantan berkokok, keras sekali sehingga Baginda dan para menterinya merasa heran.
"Ampun Tuanku yang mulia. Hamba tidak bisa bertelur seperti Baginda dan para menteri." kata Abu Nawas sambil membungkuk hormat.
"Kalau begitu engkau harus dihukum." kata Baginda bangga.
"Tunggu dulu wahai Tuanku yang mulia." kata Abu Nawas memohon.
"Apalagi hai Abu Nawas." kata Baginda tidak sabar. "Paduka yang mulia, sebelumnya ijinkan hamba membela diri. Sebenarnya kalau hamba mau bertelur, hamba tentu mampu. Tetapi hamba merasa menjadi ayam jantan maka hamba tidak bertelur. Hanya ayam betina saja yang bisa bartelur.
"Kuk kuruu yuuuuuk...!" kata Abu Nawas dengan membusungkan dada. Baginda Raja tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Baginda dan para menteri yang semula cerah penuh kemenangan kini mendadak berubah menjadi merah padam karena malu. Sebab mereka dianggap ayam betina. Abu Nawas memang licin, malah kini lebih licin daripada belut. Karena merasa malu, Baginda Raja Harun Al Rasyid dan para menteri segera berpakaian dan kembali ke istana tanpa mengucapkan sapatah kata pun. Memang Abu Nawas yang tampaknya blo'on itu sebenarnya diakui oleh para ilmuwan sebagai ahli mantiq atau ilmu logika. Gampang saja baginya untuk membolak-balikkan dan mempermainkan kata-kata guna menjatuhkan mental lawan-lawannya.
Baginda Raja beserta para menteri sering mengunjungi tempat pemandian air hangat yang hanya dikunjungi para pangeran, bangsawan dan orang-orang terkenal. Suatu sore yang cerah ketika Baginda Raja beserta para menterinya berendam di kolam, beliau berkata kepada para menteri,
"Aku punya akal untuk menjebak Abu Nawas."
"Apakah itu wahai Paduka yang mulia?" tanya salah seorang menteri.
"Kalian tak usah tahu dulu. Aku hanya menghendaki kalian datang lebih dini besok sore. Jangan lupa datanglah besok sebelum Abu Nawas datang karena aku akan mengundangnya untuk mandi bersama-sama kita." kata Baginda Raja memberi pengarahan.
Baginda Raja memang sengaja tidak menyebutkan tipuan apa yang akan digelar besok. Abu Nawas diundang untuk mandi bersama Baginda Raja dan para menteri di pemandian air hangat yang terkenal itu. Seperti yang telah direncanakan, Baginda Raja dan para menteri sudah datang lebih dahulu. Baginda membawa sembilan belas butir telur ayam. Delapan belas butir dibagikan kepada para menterinya. Satu butir untuk dirinya sendiri.
Kemudian Baginda memberi pengarahan singkat tentang apa yang telah direncanakan untuk menjebak Abu Nawas. Ketika Abu Nawas datang, Baginda Raja beserta para menteri sudah berendam di kolam. Abu Nawas melepas pakaian dan langsung ikut berendam. Abu Nawas harap-harap cemas. Kirakira permainan apa lagi yang akan dihadapi. Mungkin permainan kali ini lebih berat karena Baginda Raja tidak memberi tenggang waktu untuk berpikir.
Tiba-tiba Baginda Raja membuyarkan lamunan Abu Nawas. Beliau berkata, "Hai Abu Nawas, aku mengundangmu mandi bersama karena ingin mengajak engkau ikut dalam permainan kami."
"Permainan apakah itu Paduka yang mulia ?" tanya Abu Nawas belum mengerti.
"Kita sekali-kali melakukan sesuatu yang secara alami hanya bisa dilakukan oleh binatang. Sebagai manusia kita mesti bisa dengan cara kita masing-masing." kata Baginda sambil tersenyum.
"Hamba belum mengerti Baginda yang mulia." kata Abu Nawas agak ketakutan.
"Masing-masing dari kita harus bisa bertelur seperti ayam dan barang siapa yang tidak bisa bertelur maka ia harus dihukum !" kata Baginda.
Abu Nawas tidak berkata apa-apa. Wajahnya nampak murung. Ia semakin yakin dirinya tak akan bisa lolos dari lubang jebakan Baginda dengan mudah. Melihat wajah Abu Nawas murung, wajah Baginda Raja semakin berseri-seri.
"Nah sekarang apalagi yang kita tunggu. Kita menyelam lalu naik ke atas sambil menunjukkan telur kita masing- masing." perintah Baginda Raja. Baginda Raja dan para menteri mulai menyelam, kemudian naik ke atas satu persatu derigan menanting sebutir telur ayam. Abu Nawas masih di dalam kolam. Ia tentu saja tidak sempat mempersiapkan telur karena ia memang tidak tahu kalau ia diharuskan bertelur seperti ayam.
Kini Abu Nawas tahu kalau Baginda Raja dan para menteri telah mempersiapkan telur masing-masing satu butir. Karena belum ada seorang manusia pun yang bisa bertelur dan tidak akan pernah ada yang bisa. Karena dadanya mulai terasa sesak. Abu Nawas cepat-cepat muncul ke permukaan kemudian naik ke atas. Baginda Raja langsung mendekati Abu Nawas. Abu Nawas nampak tenang, bahkan ia berlaku aneh, tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara seperti ayam jantan berkokok, keras sekali sehingga Baginda dan para menterinya merasa heran.
"Ampun Tuanku yang mulia. Hamba tidak bisa bertelur seperti Baginda dan para menteri." kata Abu Nawas sambil membungkuk hormat.
"Kalau begitu engkau harus dihukum." kata Baginda bangga.
"Tunggu dulu wahai Tuanku yang mulia." kata Abu Nawas memohon.
"Apalagi hai Abu Nawas." kata Baginda tidak sabar. "Paduka yang mulia, sebelumnya ijinkan hamba membela diri. Sebenarnya kalau hamba mau bertelur, hamba tentu mampu. Tetapi hamba merasa menjadi ayam jantan maka hamba tidak bertelur. Hanya ayam betina saja yang bisa bartelur.
"Kuk kuruu yuuuuuk...!" kata Abu Nawas dengan membusungkan dada. Baginda Raja tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Baginda dan para menteri yang semula cerah penuh kemenangan kini mendadak berubah menjadi merah padam karena malu. Sebab mereka dianggap ayam betina. Abu Nawas memang licin, malah kini lebih licin daripada belut. Karena merasa malu, Baginda Raja Harun Al Rasyid dan para menteri segera berpakaian dan kembali ke istana tanpa mengucapkan sapatah kata pun. Memang Abu Nawas yang tampaknya blo'on itu sebenarnya diakui oleh para ilmuwan sebagai ahli mantiq atau ilmu logika. Gampang saja baginya untuk membolak-balikkan dan mempermainkan kata-kata guna menjatuhkan mental lawan-lawannya.
kumpulan-humor-abunawas.blogspot.com
cerita
lucu
ngakak
Subscribe to:
Posts (Atom)













